Harga Obat di Pandeglang Naik hingga 30 Persen, Apotek Sebut Dipicu Pelemahan Rupiah

oleh
Caption : Pemilik Apotek Banjar Medika Farma, Atih Abdul Hakim mengeluhkan harga obat-obatan naik signifikan dampak menurunnya rupiah.
Caption : Pemilik Apotek Banjar Medika Farma, Atih Abdul Hakim mengeluhkan harga obat-obatan naik signifikan dampak menurunnya rupiah.

FAJARBANTEN.CO.ID – Kenaikan harga sejumlah obat-obatan mulai dikeluhkan masyarakat di Kabupaten Pandeglang, Banten. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan biaya bahan baku dan komponen dalam industri farmasi.

Di salah satu apotek di Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, harga berbagai jenis obat mengalami kenaikan cukup signifikan. Obat-obatan yang umum dikonsumsi masyarakat, mulai dari obat sakit kepala hingga obat maag, kini dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan lalu.

Pemilik Apotek Banjar Medika Farma, Atih Abdul Hakim, mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Menurutnya, sebagian besar bahan baku dan komponen yang digunakan industri farmasi masih bergantung pada impor, sehingga fluktuasi kurs berdampak langsung terhadap harga obat di pasaran.

“Sejumlah obat mengalami kenaikan harga antara 15 hingga 30 persen. Kenaikan ini terjadi bertahap dalam beberapa bulan terakhir,” kata Atih kepada wartawan, Rabu 17 Juni 2026.

Baca Juga  Musdaprov SPS Banten Berlangsung , Muzdalifah Terpilih sebagai Ketua Baru

Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga terhadap usaha apotek yang dikelolanya. Atih mengaku omzet penjualan mengalami penurunan akibat melemahnya daya beli masyarakat.

Selain itu kata dia, banyak pelanggan yang mengeluhkan kenaikan harga saat membeli obat yang mereka butuhkan. Meski demikian, sebagian besar konsumen tetap melakukan pembelian karena obat merupakan kebutuhan kesehatan yang tidak dapat ditunda.

“Kami menerima banyak keluhan dari pelanggan terkait kenaikan harga. Namun karena obat merupakan kebutuhan penting, mereka tetap membeli meskipun harganya lebih mahal,” katanya.

Baca Juga  IM3 Luncurkan Program Nongkrong Bareng IM3

Ia mengatakan, kenaikan harga obat ini dinilai semakin menambah beban masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan.

Atih berharap pemerintah bersama pihak terkait dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga obat agar kebutuhan kesehatan masyarakat tetap dapat terpenuhi.

“Harapannya harga obat bisa kembali normal agar masyarakat tidak semakin terbebani,” ucapnya. (Asep)