Society 5.0 Adalah Isu Peradaban, Bukan Sekedar Teknologi Digital

oleh

Society 5.0 adalah isu peradaban, bukan sekedar isu teknologi digital, walaupun teknologi digital menjadi jantung dari terbentuknya society 5.0 atau yang dikenal dengan istilah smart society. Sebagai sebuah peradaban, maka fenomena society 5.0 harus dilihat dari berbagai perspektif disamping perspektif teknologi digital, yaitu ekonomi, sosial kemanusiaan, kebudayaan, ketahanan masyarakat (resilience), politik, dan sebagainya.

Demikian kesimpulan umum pada acara Kuliah Umum ECI (KUE) yang digagas oleh Enterpreneur Club Indonesia (ECI) Network (22/06/2022) yang menampilkan Prof. Teddy Mantoro (Guru Besar Ilmu Komputer Universitas Sampoerna dan Senior Member IEEE), Riri Satria (Founder dan CEO Value Alignment Advisory, Komisaris PT. Jakarta International Container Terminal, dab Dosen Ilmu Komputer Universitas Indonesia), Alva Erwin (CEo Cakrawala.id dab Dosen Teknologi Informasi Swiss German University), serta Kris Moerwanto (pengamat perilaku media sosial). Diskusi dipandu oleh Dr. Pinpin Bhaktiar, Founder dan Director ECI Network.

Prof. Teddy Mantoro menyampaikan kesiapan Indonesia menghadapi era society 5.0 dari sisi sumberdaya manusia. Ternyata jumlah ahli teknologi informasi dan digital yang tersedia di negeri ini masih sangat kurang jika dibandingkan dengan yang dibutuhkan. Ini pekerjaan rumah yang besar bagi semua pihak, agar Indonesia tidak menjadi penonton di era society 5.0 ini. Ada isu-isu makro yang segera harus dibereskan, termasuk perangkat regulasi, supaya Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dan sanggup bersaing dalam era society 5.0 ini.

Baca Juga  Dekranasda Provinsi Banten Tampilkan Tenun Baduy dan Rajutan Pada Pameran Asta Karya Nusa

Sementara itu Riri Satria menjelaskan bahwa istlah society dan industry itu berbeda walau terdapat irisannya. Industrial revolution atau industry adalah tatanan industri dan ekonomi, sementara itu society adalah tatanan peradaban. Saat ini dunia sedang berada dalam era industrial revolution 4.0 serta society 5.0 yang dikenal dengan istilah smart society.

“Dengan demikian, jika kita membahas tentang society 5.0 maka ruang lingkupnya lebih luas jika dibandingkan industry 4.0. Society 5.0 harus dilihat sebagai sesuatu yang sangat holistik karena ini adalah isu peradaban. Kita tidak bisa mengkerdilkan isu society 5.0 hanya sebatas teknologi digital seperti internet of things (IoT), artificial intelegence termasuk di dalamnya machine learning, blockchain serta turunannya seperti cryptocurrency serta non-fungible token (NFT), serta perkembangan teranyar, metaverse. Society 5.0 tidak hanya itu. Ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu budaya, bahkan filsafat harus ikut mengawal bahkan mengisi pembentukan society 5.0. Jangan sampai semua aspek hidup kita diatur oleh algoritma yang dijalankan mesin”, demikian Riri menegaskan.

Baca Juga  Pemkab Lebak Tetapkan APBD Tahun 2023 Sebesar 2,7 Triliun

Riri juga menjelaskan keterkaitan antara society 5.0 dengan Sustainable Development Goals (SDG) yang sedang digagas di dunia saat ini, berupa 17 tujuan pembangunan untuk kesejahteraan umat manusia di dunia ini, serta humanities revolution 4.0 yang dikenal dengan istilah digital human.

Narasumber berikutnya, Alva Erwin menjelaskan lebih spesifik teknologi-teknologi baru yang menjadi jantung perubahan menuju society 5.0. Ketika menjelaskan tentang blockchain, Alva Erwin mengatakan bahwa teknologi blockchain ini sesungguhnya bukan hanya sekedar teknologi, melainkan juga sebuah perubahan paradigma, bahkan sebagai budaya baru, di mana terjadi desentralisasi, hilangnya intermediary, serta munculnya trusted social contract yang disepakati bersama. Cryptocurrency serta NFT adalah dua bentuk dari penetapan teknologi blockchain ini.

Baca Juga  Soal Kebiadaban Israel Terhadap Palestina Menjadi Tema Khutbah Iedul Adha di DKM Al Ikhlas

Kris Moerwanto dalam tanggapannya menyoroti isu perilaku dan budaya masyarakat dalam menggunakan teknologi sebagai bagian dari era society 5.0. Prinsipnya teknologi itu memiliki sebua prasyarat perilaku. Jika perilaku masyarakat pengguna teknologi tidak sesuai dengan hakekat teknologi itu sendiri, maka teknologi tidak akan memberikan manfaat yang optimal, dan bahkan mungkin menjadi tidak memiliki manfaat sama sekali selain hanya sebagai media hiburan semata. Di sinilah letak peran pentingnya edukasi kepada masyarakat sebagai pengguna teknologi, supaya menjadi smart, sesuai dengan society 5.0 yaitu smart society.

Pada penutupannya, Founder ECI Network Dr. Pinpin Bhaktiar menjelaskan kita berada di antara alam optimisme dan sikap kritis. Banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan, namun kita harus tetap optimis bahwa kita mampu memasuki era society 5.0 dengan baik dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.