PUPR Lebak Maksimalkan Pelayanan Air Minum Cegah Stunting

oleh
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lebak tak ketinggalan langkah dalam mensukseskan gerakan percepatan penurunan stunting di wilayah tersebut

Lebak – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lebak tak ketinggalan langkah dalam mensukseskan gerakan percepatan penurunan stunting di wilayah tersebut. Pasalnya, DPUPR juga berupaya berkontribusi nyata melalui pelayanan pemenuhan air minum melalui kegiatan pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) berserta jaringan perpipaan dikawasan pedesaan.

Sehingga menurut Kepala DPUR Kabupaten Lebak, Irvan Suyatufika, jika pasokan air menjadi lebih lancar. Maka, masyarakat dapat menikmati layanan air minum guna di konsumsi setiap hari, dengan harapan, jika pasokan air bersih terpenuhi, maka kesehatan warga juga dapat terjamin.

“Kita bikin program sistem penyedia air minum di kawasan perdesaan. Dengan harapan, pasokan air bersih ke warga dapat terpenuhi dengan baik, sehingga kesehatan warga bisa terjamin, dan penurunan angka stunting dapat terlaksana dengan baik,” kata Irvan Suyatupika kepada wartawan, Senin (17/07/2023).

Baca Juga  Hasil Survei Ipsos Indikasikan Prabowo Gibran Menang Pilpres Sekali Putaran

Kata Irvan, PUPR selaku unsur pemerintah daerah mempunyai tugas dan kewenangan guna melakukan penataan bangunan gedung dan juga penataan lingkungannya. Sehingga, beberapa program yang ada di PUPR diperuntukan bagi kesehatan masyarakat dalam bentuk penyediaan sarana air bersih.

Salah satu peran aktif dalam rangka menurunkan angka stunting di Kabupaten Lebak, adalah menyediakan sarana dan prasarana agar pasokan air bersih dapat dinikmati warga. Oleh karena itu, PUPR melakukan penanganan melalui pembangunan Broncaptering, pembangunan sumur dalam terlindungi, serta pengembangan jaringan distribusi dan sambungan rumah (SR) dengan sasaran lokasi diprioritaskan bagi Desa-desa dengan nilai prevalensi tinggi stunting yang belum memiliki layanan air minum dan merupakan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

“Sasaran kita adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang berada di perkampungan yang memiliki prevalensi tinggi stunting. Disinilah pompanisasi SPAM kita bangun, agar warga dapat menikmati air bersih, agar angkat stuntingnya menurun,” harap Irvan.

Baca Juga  Peduli Akan Kesehatan Warga, Pak Eko Gelar Fogging di Perumahan Puri Delta

Kegiatan SPAM itu terdiri dari lima paket lokasi yang bersumber dari APBD Lebak dengan total 441 SR dan 19 paket lokasi yang bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) dengan total 2.723 SR. Hingga kini, pelaksanaan kegiatan telah mencapai 30 persen.

Selain itu juga pada program hibah air minum perdesaan adalah pemberian hibah dari pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah yang bersumber dana dari APBN, yang berjumlah tiga Paket lokasi dengan total 452 SR terbangun, yang nantinya akan langsung di serahkan kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk pengelolaannya.

Sedangkan untuk pembangunan sistem pengelolaan air limbah domestik setempat (SPALD-S) di daerah Perkotaan atau perdesaan, dilakukan penanganan melalui pembangunan Tangki Septik skala Individual Perdesaan dengan sasaran minimal 50 KK, dengan pembangunan penyediaan sub sistem pengolahan setempat ini terdiri dari 4 Paket lokasi yang sumber dananya berasal dari APBD dengan total 223 SR dan 17 Paket lokasi yang sumber dananya berasal dari DAK dengan total 951 SR terbangun.

Baca Juga  FORSILADI DKI Jakarta Lantik Pengurus dan Gagas UU Restorative Justice

“Semua program itu demi percepatan penurunan angka stunting. Tentu sasarannya masyarakat berpenghasilan rendah yang berada di daerah dengan nilai prevalensinya tinggi stunting,” tutur Irvan.

Jumhaedi, warga penerima program mengaku antusias dengan adanya program SPAM dan SPALDS diwilayahnya. Karena diharapkan pasokan air di daerahnya bisa terpenuhi dengan baik, saat ini kata dia, warga agak kesusahan mendapatkan pasokan air bersih. (Adv)