FAJARBANTEN.CO.ID – Laporan Akhir Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun Akademik 2025/2026, Penggunaan AI untuk Pembelajaran Menulis Bahasa Inggris
Oleh :
Suryadi Spd., M.Pd.1, Fitrahn Satria Tama2, Candra Anggriana3, Hendi4, Anisya Novitasari5, Nurholifah6
Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Pamulang (Kota Serang)
Email Penulis Korespondensi: dosen03464@unpam.ac.id, fitransatria06@gmail.com, bubucancan11@gmail.com, hendiramadhan758@gmail.com, nisyanovitasari65@gmail.com, nurkholifah2134@gmail.com
Abstrak
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis Bahasa Inggris siswa melalui pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) di MAN 1 Serang. Latar belakang kegiatan ini didasarkan pada rendahnya keterampilan menulis siswa serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan dengan pendekatan praktik langsung agar siswa dapat memahami penggunaan AI secara efektif. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest terhadap 30 peserta untuk mengukur tingkat pemahaman sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil pretest menunjukkan bahwa sebagian besar peserta berada pada kategori kurang paham. Setelah pelatihan, terjadi peningkatan signifikan, di mana mayoritas peserta berada pada kategori sangat paham dan tidak ada lagi peserta dalam kategori kurang paham. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan AI mampu membantu siswa dalam menemukan ide, memperbaiki tata bahasa, serta meningkatkan kualitas tulisan. Selain itu, siswa juga menjadi lebih percaya diri dalam menulis. Dengan demikian, pemanfaatan AI terbukti efektif sebagai media pendukung dalam pembelajaran menulis Bahasa Inggris.
Kata Kunci: Artificial Intelligence, menulis Bahasa Inggris, pembelajaran, siswa, teknologi pendidikan
Abstract
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi digital di era modern telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Salah satu bidang yang mengalami dampak signifikan adalah pembelajaran Bahasa Inggris, khususnya dalam keterampilan menulis (writing). Kemampuan menulis merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki oleh siswa, karena tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menyusun ide, serta mengekspresikan gagasan secara sistematis. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran menulis Bahasa Inggris masih menghadapi berbagai kendala. Berdasarkan hasil observasi dan pengalaman di lapangan, ditemukan beberapa permasalahan utama yang dialami siswa, antara lain:
Pertama, siswa mengalami kesulitan dalam memulai tulisan. Banyak siswa yang tidak memiliki ide atau bingung bagaimana memulai kalimat pertama. Hal ini menyebabkan mereka cenderung menunda atau bahkan tidak menyelesaikan tugas menulis. Kedua, kemampuan grammar dan struktur kalimat siswa masih tergolong rendah. Kesalahan dalam penggunaan tenses, susunan kalimat, serta pemilihan kata sering terjadi, sehingga hasil tulisan kurang efektif dan sulit dipahami. Ketiga, proses revisi tulisan yang masih dilakukan secara manual membutuhkan waktu yang cukup lama. Siswa sering kali tidak mengetahui kesalahan yang mereka buat, sehingga perbaikan menjadi tidak optimal. Keempat, rendahnya tingkat kepercayaan diri siswa dalam menulis. Banyak siswa merasa takut salah, sehingga mereka enggan untuk mencoba menulis dalam Bahasa Inggris.
Di sisi lain, perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) membuka peluang besar dalam dunia pendidikan. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran yang mampu memberikan umpan balik secara cepat, membantu memperbaiki kesalahan grammar, memberikan saran ide, serta meningkatkan kualitas tulisan siswa. Dengan memanfaatkan AI secara tepat dan bijak, proses pembelajaran menulis dapat menjadi lebih efektif, interaktif, dan berpusat pada siswa. Oleh karena itu, diperlukan suatu kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih penggunaan AI dalam pembelajaran menulis Bahasa Inggris.
METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan kegiatan PKM ini disusun secara sistematis untuk mengatasi permasalahan siswa dalam pembelajaran menulis Bahasa Inggris, yang meliputi kesulitan menemukan ide, lemahnya penguasaan grammar, proses revisi yang memakan waktu, serta rendahnya kepercayaan diri.
Pendekatan yang digunakan adalah pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai solusi inovatif. Tahapan pelaksanaan dimulai dari identifikasi masalah untuk memahami kebutuhan siswa, dilanjutkan dengan pengenalan konsep dasar dan manfaat AI dalam pembelajaran menulis, kemudian praktik langsung penggunaan AI, serta diakhiri dengan evaluasi dan refleksi untuk melihat efektivitas penggunaan teknologi tersebut.
Realisasi kegiatan dilakukan secara bertahap melalui tahap persiapan, sosialisasi, pelatihan praktis, dan evaluasi. Pada tahap persiapan, tim menyusun materi berbasis AI serta berkoordinasi dengan pihak sekolah. Tahap sosialisasi dilakukan melalui presentasi interaktif dan diskusi untuk memberikan pemahaman awal terkait permasalahan menulis dan peran AI. Selanjutnya, pada tahap pelatihan praktis, siswa melakukan kegiatan menulis secara mandiri, memanfaatkan AI untuk memperoleh umpan balik, serta melakukan revisi berdasarkan pemahaman mereka. Tahap evaluasi dilakukan melalui observasi, penilaian hasil tulisan, dan umpan balik peserta, yang menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menulis dan kepercayaan diri siswa.
Kegiatan ini menyasar siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai generasi digital yang telah familiar dengan teknologi, sehingga lebih mudah mengadopsi AI dalam pembelajaran.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan di sekolah mitra, yaitu MAN 1 Serang, dengan metode pembelajaran yang bersifat aktif dan partisipatif, meliputi ceramah interaktif, diskusi, praktik langsung, dan studi kasus. Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan keterampilan menulis secara efektif dengan bantuan teknologi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Seluruh rangkaian kegiatan mulai dari sosialisasi hingga evaluasi dapat dilaksanakan dengan optimal. Siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal ini terlihat dari keaktifan mereka dalam mengikuti sesi diskusi, mencoba tools AI, serta menyelesaikan tugas yang diberikan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa:
• Siswa mampu menulis dengan lebih cepat
• Siswa dapat memperbaiki kesalahan grammar dengan bantuan AI
• Siswa lebih mudah menemukan ide tulisan
• Siswa menjadi lebih percaya diri dalam menulis
Selain itu, terjadi peningkatan kualitas tulisan siswa, baik dari segi struktur kalimat, pemilihan kata, maupun kejelasan makna.
Pembahasan
Berdasarkan hasil yang diperoleh, penggunaan AI dalam pembelajaran menulis terbukti memberikan dampak positif yang signifikan. Pertama, AI membantu mempercepat proses belajar. Siswa tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan koreksi, sehingga proses belajar menjadi lebih efisien. Kedua, AI meningkatkan kualitas tulisan siswa. Dengan adanya saran perbaikan, siswa dapat memahami kesalahan yang mereka lakukan dan memperbaikinya. Ketiga, AI meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa. Dengan bantuan AI, siswa merasa lebih percaya diri karena memiliki “pendamping” dalam menulis. Namun demikian, penggunaan AI juga memiliki tantangan. Salah satu tantangan utama adalah potensi ketergantungan siswa terhadap AI. Oleh karena itu, diperlukan bimbingan dari guru agar siswa tetap aktif berpikir dan tidak hanya mengandalkan AI. Dengan demikian, penggunaan AI harus dilakukan secara bijak, yaitu sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses belajar.
Tabel 3.1 Susunan Acara Kegiatan
Waktu Kegiatan PIC / Penanggung Jawab
07.30–07.45 Registrasi Peserta All
08.00–08.10 Pembukaan dengan mambaca Basmallah MC Mahasiswa
08.15–08.25 Sambutan-Sambutan : Sambutan ke 1 sekaligus memperkenalkan tim PkM Dosen dan mahasiswa Dosen Pembimbing
Dr. Suryadi S.Pd., M.Pd
08.25–08.35 Sambutan ke 2 sekaligus membuka acara PkM Kepala MAN 1 Serang
Dr. Momon Andriwinata, S.Pd., M.Pd.
08.35–09.15 Materi 1 (Narasumber B) Dr. Suryadi S.Pd., M.Pd.
09.15–10.00 Diskusi / Tanya Jawab All Mahasiswa
10.00–10.30 Games & Hiburan All Mahasiswa
10.30–10.45 Pemberian Cendramata Ketua Kelompok
10.50–11.00 Penutup doa & Dokumentasi MC & Dokumentasi
Metode Kegiatan
Metode pelaksanaan kegiatan PKM dirancang secara sistematis melalui pendekatan pembelajaran yang aktif dan partisipatif guna mencapai tujuan program secara optimal. Dalam implementasinya, beberapa metode yang digunakan meliputi:
a. Ceramah atau presentasi interaktif untuk memberikan pemahaman dasar mengenai keamanan digital dengan bahasa yang sederhana serta didukung contoh visual yang relevan.
b. Diskusi untuk mendorong siswa berbagi pengalaman terkait penggunaan media sosial dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya perilaku aman di dunia maya.
c. Studi kasus untuk melatih kemampuan siswa dalam mengenali ancaman digital seperti phishing, malware, dan hoaks melalui analisis kasus nyata.
d. Sesi tanya jawab guna memperdalam pemahaman siswa serta memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi materi yang belum dipahami.
e. Kampanye kampus untuk memperkenalkan Universitas Pamulang (UNPAM), termasuk informasi mengenai program studi, beasiswa, dan peluang pendidikan lanjutan.
Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Hasil dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan tema “penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran menulis Bahasa Inggris” telah terlaksana dengan baik sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi MAN 1 Serang.
a. Peserta Kegiatan PKM
Gambar 4. 1 Peserta Kegiatan PKM
Berdasarkan Gambar 4. 1 pelatihan dimulai dengan pengenalan konsep dasar keamanan digital, termasuk pemahaman mengenai pentingnya perlindungan data pribadi, mekanisme autentikasi, serta prinsip-prinsip umum dalam menjaga keamanan perangkat. Pada tahap ini, peserta dipandu untuk memahami bagaimana kebiasaan-kebiasaan digital yang sederhana-seperti penggunaan kata sandi yang lemah atau ketidak ati-hatian dalam membuka tautan-dapat berpotensi membuka celah keamanan bagi pihak yang tidak bertanggung jawab. Pendekatan ini dilakukan dengan metode diskusi interaktif sehingga peserta dapat mengaitkan materi dengan pengalaman pribadi siswa.
b. Penyampaian Materi
Gambar 4. 2 Penyampaian Materi
Pada gambar 4.2 Penyampaian materi inti dalam pelatihan berfokus pada pengenalan dan identifikasi beragam ancaman siber yang kerap muncul dalam aktivitas digital sehari-hari. Ancaman tersebut meliputi phishing, scamming, malware (termasuk ransomware), serta berbagai teknik social engineering yang sering memanfaatkan kelemahan psikologis pengguna. Melalui pemaparan teori, studi kasus, dan simulasi sederhana, peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai pola serangan yang umum ditemui serta cara kerja para pelaku kejahatan siber dalam memanipulasi korban.
c. Diskusi Dengan Peserta
Gambar 4. 3 Diskusi Dengan Peserta
Selain penyampaian materi, pada gambar 4.3 peserta juga mengikuti sesi diskusi interaktif yang membahas dampak positif dan risiko keamanan dari penggunaan teknologi digital, terutama media sosial dan internet banking. Diskusi ini bertujuan menggali pemahaman etis serta tanggung jawab pribadi peserta dalam menjaga keamanan informasi. Kegiatan dilanjutkan dengan praktik sederhana, seperti demonstrasi penggunaan Password Manager untuk membuat dan mengelola kata sandi yang kuat, serta pengecekan jejak digital (digital footprint) pribadi. Praktik ini membantu peserta memahami langkah-langkah awal mitigasi risiko dan pentingnya menjaga identitas digital secara aman.
d. Hasil Pemahaman Peserta
Evaluasi pemahaman peserta dalam kegiatan ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu pretest sebelum materi diberikan dan posttest setelah seluruh rangkaian pelatihan dilaksanakan. Kedua instrumen evaluasi ini bertujuan untuk melihat sejauh mana perubahan tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Hasil yang ditunjukkan pada grafik memberikan gambaran yang jelas mengenai kemampuan awal peserta sekaligus efektivitas pelatihan dalam meningkatkan pemahaman peserta.
Gambar 4. 4 Hasil Pemahaman Pretest Peserta Pada tahap awal (pretest), peserta diminta menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi dasar yang akan dipelajari. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat pemahaman awal peserta masih sangat bervariasi dan didominasi oleh kategori Kurang Paham. Berdasarkan grafik pretest, hanya 3 peserta yang masuk dalam kategori Sangat Paham. Angka ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil peserta yang memiliki pengetahuan awal yang baik mengenai materi tersebut.
Selanjutnya, terdapat 7 peserta yang berada pada kategori Paham, yang berarti bahwa meskipun mereka telah memahami sebagian materi, pemahaman tersebut masih belum menyeluruh. Sementara itu, jumlah peserta terbanyak, yaitu 20 orang, berada pada kategori Kurang Paham. Kondisi ini menggambarkan bahwa sebagian besar peserta belum memiliki bekal pengetahuan yang cukup sebelum kegiatan pelatihan dimulai. Dominasi kategori Kurang Paham juga memperlihatkan bahwa peserta membutuhkan penjelasan yang lebih mendalam, pendampingan yang intensif, serta media pembelajaran yang lebih efektif untuk membantu mereka memahami konsep-konsep materi dengan jelas. Dengan demikian, hasil pretest ini menjadi dasar bagi fasilitator untuk menentukan strategi pembelajaran yang lebih tepat selama pelatihan berlangsung.
Gambar 4. 5 Hasil Posttest Pemahaman Peserta
Setelah penyampaian materi, pemberian contoh, dan pelaksanaan sesi diskusi serta praktik terarah, peserta kembali menjalani evaluasi pemahaman melalui posttest. Hasil yang diperoleh pada tahap ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan dengan kondisi awal (pretest).
Berdasarkan grafik, sebanyak 24 peserta masuk ke dalam kategori Sangat Paham setelah mengikuti pelatihan. Ini berarti bahwa mayoritas peserta telah mampu memahami materi secara utuh dan komprehensif.
Selain itu, terdapat 6 peserta yang berada pada kategori Paham. Meskipun belum mencapai tingkat Sangat Paham, peserta dalam kategori ini telah menunjukkan pemahaman yang baik dan telah menguasai sebagian besar materi yang diberikan.
Menariknya, pada tahap posttest tidak ada peserta yang berada pada kategori Kurang Paham. Hilangnya kategori ini menunjukkan bahwa seluruh peserta setidaknya telah mencapai tingkat pemahaman minimal “Paham”. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa metode penyampaian materi selama pelatihan berjalan dengan efektif. Materi yang disampaikan mampu diterima dan dipahami oleh peserta dengan sangat baik. Selain itu, penggunaan metode pelatihan berbasis praktik dan diskusi terbukti membantu peserta dalam menginternalisasi pengetahuan yang diberikan.
e. Perbandingan Hasil Pretest dan Posttest
Perbandingan hasil pretest dan posttest merupakan indikator utama untuk menilai efektivitas kegiatan pelatihan. Dari hasil analisis, terlihat adanya perubahan yang sangat positif pada kemampuan peserta, baik secara individual maupun secara kelompok. Beberapa poin perbandingan yang dapat disoroti:
1. Peningkatan Kategori Sangat Paham
Kategori ini mengalami peningkatan dari 3 peserta pada saat pretest menjadi 24 peserta pada saat posttest. Peningkatan ini mencapai kenaikan lebih dari tujuh kali lipat.
2. Stabilitas Kategori Paham
Meskipun jumlah peserta dalam kategori Paham hanya sedikit berbeda antara pretest dan posttest (sekitar 7 menjadi 6 peserta), namun peserta dalam kategori ini telah menunjukkan peningkatan pemahaman yang lebih baik.
3. Penurunan Kategori Kurang Paham
Kategori ini mengalami penurunan drastis dari awalnya 20 peserta menjadi 0 peserta. Artinya, tidak ada peserta yang mengalami kesulitan pemahaman setelah mengikuti pelatihan.
Perbandingan ini membuktikan bahwa pelatihan berjalan secara efektif dan mampu meningkatkan pemahaman peserta secara signifikan. Peningkatan ini tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga mencerminkan peningkatan kualitas pemahaman peserta secara keseluruhan.
Berdasarkan hasil pretest dan posttest, dapat dilihat bahwa pelatihan memberikan dampak yang sangat positif terhadap pemahaman peserta. Beberapa poin penting yang dapat dibahas lebih lanjut antara lain:
a. Efektivitas Metode Pelatihan Metode yang digunakan, seperti penyampaian materi secara bertahap, penggunaan contoh konkret, serta sesi praktik langsung, terbukti mampu meningkatkan pemahaman peserta. Kombinasi metode ceramah, diskusi, dan praktik turut membantu peserta dalam menerima dan memahami informasi secara lebih mudah.
b. Peningkatan Motivasi Peserta Peningkatan hasil posttest menunjukkan bahwa peserta memiliki motivasi belajar yang tinggi. Peserta yang awalnya berada pada kategori Kurang Paham mampu meningkatkan pemahaman mereka setelah proses pembelajaran berlangsung.
c. Kesesuaian Materi dengan Kebutuhan Peserta Materi yang disampaikan telah sesuai dengan kebutuhan peserta, terlihat dari tingginya tingkat pemahaman setelah pelatihan. Peserta dapat mengikuti dan memahami materi dengan baik karena disajikan dengan cara yang sederhana, sistematis, dan aplikatif.
d. Dampak Positif Terhadap Pemahaman Kolektif Hilangan kategori Kurang Paham pada hasil posttest membuktikan bahwa pelatihan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman individu, tetapi juga meningkatkan kualitas pemahaman kelompok secara keseluruhan. Hal ini sangat penting sebagai indikator keberhasilan kegiatan pengabdian.
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan tema “Penggunaan AI untuk Pembelajaran Menulis Bahasa Inggris” telah terlaksana dengan baik sesuai rencana dan tujuan yang ditetapkan. Melalui kegiatan ini, siswa MAN 1 Serang memperoleh pemahaman baru bahwa AI dapat menjadi alat pendukung yang efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis Bahasa Inggris, meskipun penggunaannya tetap perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak menimbulkan ketergantungan.
Berdasarkan hasil pretest terhadap 30 peserta, tingkat pemahaman awal tergolong rendah, dengan 3 peserta (10%) berada pada kategori sangat paham, 7 peserta (23,3%) pada kategori paham, dan 20 peserta (66,7%) pada kategori kurang paham, yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta belum memahami materi sebelum pelatihan.
Setelah pelatihan, hasil posttest menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, yaitu 24 peserta (80%) berada pada kategori sangat paham dan 6 peserta (20%) pada kategori paham, tanpa adanya peserta dalam kategori kurang paham. Peningkatan ini mencerminkan kenaikan sebesar 700% pada kategori sangat paham dan penurunan 100% pada kategori kurang paham. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode pelatihan yang meliputi penyampaian materi, praktik, dan pendampingan telah berjalan efektif serta mampu menjawab kebutuhan peserta. Secara keseluruhan, kegiatan ini dapat dikategorikan sangat berhasil karena mampu meningkatkan pemahaman peserta dari tingkat rendah menjadi tinggi secara menyeluruh.
SARAN
Disarankan agar pihak sekolah terus mendukung dan memfasilitasi kegiatan edukatif yang berfokus pada Penggunaan AI untuk Pembelajaran Menulis Bahasa Inggris dan etika penggunaan teknologi secara berkelanjutan. Hal ini penting agar siswa mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memahami etika penggunaan teknologi (AI).
Bagi peserta, diharapkan pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menggunakan media sosial dan perangkat digital secara aman dan bertanggung jawab. Sementara itu, bagi penyelenggara, kegiatan serupa di masa mendatang dapat dikembangkan dengan menambahkan sesi praktik, pelatihan, atau simulasi ancaman siber agar pengalaman peserta menjadi lebih mendalam dan aplikatif.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, S. A. (2025). Pemanfaatan AI dalam Pengembangan Keterampilan Menulis Bahasa Inggris: Manfaat, Tantangan, dan Persepsi Pengguna. Karimah Tauhid, 4(8). https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i8.19961
Anwari, M. F., & Retnaningsih, W. (2025). Perception of the Use of Artificial Intelligence for Improving English Academic Writing Skills. ELOQUENCE: Journal of Foreign Language, 4(2). https://ejournal.iaingorontalo.ac.id/index.php/ELOQUENCE/article/view/2749
Jacob, S., Tate, T., & Warschauer, M. (2023). Emergent AI-Assisted Discourse: Case Study of a Second Language Writer Authoring with ChatGPT. arXiv. https://arxiv.org/abs/2310.10903
Nurazizah, S. (2025). Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam Pembelajaran Kemampuan Menulis Bahasa Inggris. Karimah Tauhid, 4(7). https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i7.19617
Woo, J. H., & Choi, H. (2021). Systematic Review for AI-based Language Learning Tools. arXiv. https://arxiv.org/abs/2111.04455
Nurdianingsih, E., Rahmawati, D., & Putri, A. (2025). Efektivitas Penggunaan AI Writing Tools dalam Pembelajaran Menulis Bahasa Inggris. Jurnal Cendekia Ilmiah, 5(2), 120–128.
Fitri, N., Thahira, R., Mahdum, & Copriady, J. (2026). Etika Penggunaan Artificial Intelligence dalam Menjaga Integritas Akademik Pembelajaran Bahasa Inggris. Jurnal Pendidikan dan Teknologi, 6(1), 44–53.
Noviarini, D. (2026). Peran ChatGPT dalam Pembelajaran Menulis Bahasa Inggris bagi Mahasiswa. Jurnal Studi Edukasi, 3(1), 55–67.
Darmawan, A. (2025). Pengaruh Teknologi Artificial Intelligence terhadap Kemampuan Writing Siswa Generasi Z. Jurnal Pendidikan Modern, 7(3), 88–97.
Nurjamin, A., dkk. (2025). Pengenalan dan Praktik Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran Menulis untuk Calon Guru Bahasa. Jurnal Pengabdian Pendidikan, 4(1), 30–39.







