Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Terasa hingga Menes, Warga Keluhkan Sesak dan Mata Perih

oleh 3 views

FAJARBANTEN.CO.ID – Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) dilaporkan terasa hingga Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu (5/9/2026) malam.

Abu vulkanik mulai dirasakan warga sekitar pukul 20.00 WIB. Material berwarna gelap tersebut terbawa angin dan terlihat menempel di kendaraan serta sejumlah permukaan di sekitar rumah warga.

Kondisi itu membuat warga yang masih beraktivitas di luar rumah merasakan dampaknya. Sejumlah warga mengaku mengalami mata perih hingga gangguan pada pernapasan setelah terpapar abu.

Baca Juga  Lapas Cilegon Berikan Pembinaan Spiritual Lewat Peringatan Isra Mi’raj

Salah seorang warga, Avrizal, mengatakan dirinya merasakan sesak dan tenggorokan tidak nyaman saat berkendara di tengah kondisi tersebut.

“Tadi terasa seperti ada debu masuk waktu bawa kendaraan. Napas jadi agak sesak dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Terus mata juga jadi perih,” ungkapnya kepada wartawan, Sabtu 5 September 2026.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Haikal. Ia mengatakan matanya terasa perih setelah beraktivitas di luar rumah.

Baca Juga  Kapolda Banten Sampaikan Ucapan Maulid Nabi, Ajak Masyarakat Teladani Rasulullah SAW

“Mata terasa perih dan seperti kemasukan pasir. Abu juga kelihatan menempel di kendaraan,” ujarnya.

Menurut Haikal, abu juga terlihat di sekitar rumahnya. Untuk mengurangi paparan abu, ia memilih menutup pintu dan jendela rumah.

“Abunya terasa sekali. Di teras dan kendaraan ada seperti debu hitam. Kalau menghirup udara di luar terasa tidak enak di tenggorokan,” katanya.

Baca Juga  Ditreskrimum Polda Banten melalui Unit PPA Ungkap Kasus Pencabulan terhadap Tiga Anak di Pandeglang

Haikal mengimbau warga yang harus beraktivitas di luar rumah agar menggunakan masker dan kacamata untuk mengurangi paparan abu vulkanik.

“Kami juga menghimbau untuk warga saat beraktivitas di luar rumah gunakan masker hingga kacamata karena abu Vulkanik masih bertebaran di udara,” imbaunya. (Asep)