YES 2026 Soroti Peluang Ekspor dan Transformasi Pekerja ke Gig Economy

oleh 7 views

JAKARTA – Kondisi makroekonomi Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan berat akibat gejolak perekonomian global. Meski demikian, pergeseran tren lapangan kerja dan pelemahan nilai tukar rupiah justru membuka peluang besar, khususnya di sektor ekspor dan gig economy lintas batas (borderless economy).

Hal tersebut ditekankan oleh Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, dalam acara Youth Economic Summit 2026 yang digelar di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu (7/11/2026).

Dalam paparannya, Dipo memetakan bahwa setidaknya terdapat empat tantangan makroekonomi utama yang saat ini menekan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah.

Pertama, depresiasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS. Hal ini berdampak langsung pada lonjakan biaya produksi bagi industri yang memiliki ketergantungan pada bahan baku impor.

Kedua, inflasi impor (imported inflation) yang dipicu oleh eskalasi geopolitik, seperti perang di Iran, yang menyebabkan kenaikan harga minyak dunia dan berimbas pada naiknya harga BBM non-subsidi di dalam negeri.

Ketiga, tren suku bunga tinggi menyusul kenaikan BI Rate yang mengakibatkan membengkaknya biaya pinjaman masyarakat seperti KPR dan kartu kredit. Keempat, fenomena iklim El Nino yang memicu disrupsi pasokan dan inflasi pangan.

Baca Juga  Pokja Konstituen Dewan Pers Banten dan Forum Pemred Gelar Diskusi Bahas Rekam Jejak Calon Rektor Untirta

“Keempat elemen ini secara akumulatif menggerus daya beli masyarakat. Kita melihat banyak kelas menengah yang terpaksa turun kelas akibat kombinasi stagnasi pendapatan, atau bahkan penurunan upah, yang berbenturan dengan kenaikan harga barang dan biaya transportasi,” ujar Dipo.

Meskipun indikator ekonomi saat ini memberikan sentimen yang cukup negatif, Dipo mengingatkan masyarakat dan generasi muda untuk melihat situasi ini dengan kepala dingin. Ia menilai situasi makroekonomi yang tertekan ini justru memunculkan pergeseran peluang.

“Tiada rotan, akar pun jadi. Pelemahan nilai tukar rupiah ini sebenarnya memberikan keuntungan komparatif bagi produk ekspor dan penawaran jasa kita ke luar negeri. Saat ini kita berada di era borderless economy, di mana anak muda Indonesia dengan keahlian yang kompetitif bisa menawarkan jasanya ke pasar global dan bersaing dengan negara lain,” papar dia.

Pergeseran Lanskap Pekerjaan: Dari Formal ke Informal

Lebih lanjut, Dipo menyoroti transformasi fundamental pada lanskap ketenagakerjaan, yakni pergeseran masif dari sektor formal ke informal.

Saat ini, pekerja informal mendominasi hingga 60% dari total tenaga kerja di Indonesia. Tren gig economy (ekonomi pekerja lepas) terus tumbuh didorong oleh perubahan struktur perusahaan yang kini cenderung berskala menengah atau kecil, serta preferensi generasi muda yang menginginkan otonomi dan fleksibilitas kerja.

Baca Juga  Hadirkan 4 Layanan Utama, Program Tamasya UBP PLN Indonesia Power UBP Suralaya Jadi yang Terbaik

“Peluang gig economy ini sangat luas dan tidak hanya terbatas pada sektor kreatif seperti ilustrator atau gaming, tetapi juga merambah layanan profesional analitik seperti akuntansi hingga pelatihan Artificial Intelligence (AI). Saya sendiri pernah menjajal profesi sebagai AI trainer pada awal tahun dengan kompensasi yang sangat menjanjikan, mencapai 100 dolar AS per jam,” ungkap Dipo.

Terkait dengan adopsi AI, Dipo menilai narasi bahwa AI akan segera menggantikan pekerjaan manusia secara masif masih belum sepenuhnya relevan untuk konteks Indonesia saat ini. Namun, ia sepakat bahwa AI akan merombak tipe industri dan spesifikasi pekerjaan yang dibutuhkan di masa depan.

Walaupun sektor manufaktur tradisional sedang tertekan akibat tingginya komponen impor, Dipo optimis bahwa serapan tenaga kerja akan mengalir ke sektor-sektor baru yang sedang bertumbuh subur, seperti green jobs, pusat data (data center), pendidikan, dan layanan kesehatan mental (mental health).

Baca Juga  Cegah PPOK, Lindungi Kesehatan Paru dari Kerusakan Jangka Panjang

“Peluang itu selalu ada, wujudnya saja yang berubah. Generasi yang baru lulus mungkin tidak akan lagi meniti karir dengan pola konvensional berbondong-bondong masuk ke corporate besar, melainkan lebih banyak berkiprah di perusahaan menengah, kecil, atau sebagai pekerja lepas. Mindset adaptif terhadap bentuk ekonomi baru inilah yang harus mulai ditanamkan,” tutup Dipo.

Tentang Youth Economic Summit 2026

Youth Economic Summit 2026 diselenggarakan CORE Indonesia bersama Suara.com, dengan European Union sebagai special participant. Acara ini turut didukung dari VIRIYAENB, OVO, Solaria, Manulife, MIND ID, Mekari, MangKatsu, Frisian Flag, Le Minerale, Garudafood, Tenku, Paling Kopi, dan Nissin Wafers.

‎Adapun mitra komunitas yang terlibat meliputi Ruang Gagasan, YourSay, Aliansi Remaja Independen, AIESEC Indonesia, Bajik Pendidikan, Generasi Energi Bersih Indonesia, Youth Ranger Indonesia, FOSSEI Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam, FPCI Climate Unit, dan Jakarta Mendunia.

‎Sedangkan mitra media yang mendukung penyelenggaraan YES 2026 meliputi Katadata, Inilah.com, Kawan GNFI, BeritaSatu, MetroTVNews.com, Metro TV, Tempo, Investor.id, Bisnis Indonesia Group, Bisnis Muda, Delta FM, Staradio Tangerang, dan Tenten Go. (*/yogi)