Fajarbanten.co.id – Uji coba penanaman padi varietas PS-08 di Kabupaten Pandeglang, Banten, pada lahan seluas 753 hektare membawa harapan baru bagi petani. Varietas ini diklaim mampu menghasilkan hingga 10 ton per hektare dan dinilai dapat meningkatkan pendapatan para petani.
Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pangan, Irna Narulita, mengatakan bahwa meski masih dalam tahap uji coba, varietas PS-08 telah menunjukkan bukti nyata di lapangan.
“Ini masih uji coba, tapi sudah terlihat bukti nyata. Biasanya petani menanam padi tiga atau empat batang, sekarang cukup satu batang. Hasilnya bisa dilihat, satu rumpun bisa menghasilkan anakan sampai 75 batang,” ungkap Irna usai menghadiri Panen Raya di Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Rabu 11 Februari 2026.
Menurut Irna, produktivitas padi di Pandeglang sebelumnya rata-rata hanya mencapai 5 ton per hektare. Namun, dengan varietas PS-08, hasil panen dapat meningkat hingga 8 sampai 10 ton per hektare.
“Biasanya di Pandeglang satu hektare hanya sekitar 5 ton. Dengan kualitas PS-08 ini bisa mencapai 8 sampai 10 ton per hektare,” ujarnya.
Irna menegaskan, program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.
“Ini mewujudkan bagaimana pendapatan petani makin baik dan bagaimana ketahanan pangan kami jaga agar bisa bertahan untuk generasi berikutnya, sehingga kebutuhan pangan bisa tercukupi melalui Yayasan Aksi Bela Negara,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi peran Yayasan Aksi Bela Negara yang dinilai konsisten mengembangkan padi PS-08 secara organik di berbagai daerah.
“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran, terutama yang menginisiasi, yaitu Yayasan Aksi Bela Negara. Mereka konsisten menjaga kualitas organik padi PS-08 agar bisa ditanam di 38 provinsi,” ucap Irna.
Lebih lanjut, Irna menyebut keberhasilan program ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor beras.
“Ini akan membuktikan bahwa produksi masyarakat Indonesia berasal dari petani sendiri, tidak lagi impor, bahkan kalau bisa kami ekspor,” katanya.
Ia menjelaskan, benih PS-08 dikelola oleh yayasan dengan melibatkan kelompok tani dalam proses uji coba. Hasil panen kemudian diserap kembali oleh yayasan dengan harga setara Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Bulog, yakni Rp6.500 per kilogram.
“Benihnya dikelola oleh yayasan dengan melibatkan kelompok tani. Setelah panen, hasilnya diambil kembali oleh Yayasan Bela Negara dengan harga HPP Rp6.500. Ini keuntungan dobel untuk para petani,” ungkapnya.
Saat ini, sebagian hasil panen digunakan untuk benih dan konsumsi internal. Varietas tersebut masih menunggu izin edar dari Kementerian Pertanian.
“Setengahnya untuk benih, setengahnya untuk konsumsi internal. Ini belum boleh keluar karena belum ada izin edar, tetapi akan diurus di Kementerian Pertanian. Mudah-mudahan Juni atau Juli panen kedua bisa keluar uji edar dan bisa ditanam oleh seluruh kelompok tani di Indonesia,” tuturnya.
Terkait target swasembada pangan, Irna menekankan pentingnya semangat dan strategi jemput bola.
“Kami harus semangat dan jemput bola. PS-08 ini kualitas unggulan dan harus minimal empat kali tanam. Indonesia negara tropis, ada hujan dan panas, sumber air banyak, sangat mendukung. Harapannya bisa empat kali tanam, empat kali panen, bahkan bisa lima kali jika dikelola dengan baik,” pungkasnya.
Sementara itu, Pembina Yayasan Bhakti Bela Negara, Seno Aji, menuturkan bahwa varietas PS-08 memiliki sejumlah keunggulan.
“Keunggulan benih PS-08 di antaranya masa tanam lebih singkat, bulir padi lebih padat, serta tahan terhadap hama dan cuaca. Dalam satu hektare lahan bisa menghasilkan sekitar 8 ton gabah,”tuturnya. (Asep)







