Fajarbanten.co.id – Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten bersama Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Banten menggelar Shafara x Ferba 2025 atau Sharia Festival Jawara x Festival Rupiah Banten di Bintaro Jaya Xchange Mall 2, Jumat – Minggu (29-31/8/ 2025).
Acara ini mengusung tema “Menguatkan Ekonomi dan Keuangan Syariah melalui Sinergi dan Kolaborasi untuk Mendukung Banten Maju dan Sejahtera”, dengan menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari halal foods, modest fashion, casual talk, Pameran UMKM, hingga showcase Museum dan Jawara Mart
Pada hari pertama, festival dibuka dengan Opening Ceremony dan seminar ekonomi syariah bertema “Mengakselerasi implementasi Ekonomi dan Keuangan Syariah yang inklusif dan berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor di Provinsi Banten”.
Pada gelaran tahun ini, Shafara x Ferba 2025 diikuti lebih dari 80 peserta UMKM dari berbagai sektor dengan target transaksi mencapai Rp 3,1 miliar lebih. Targalet ini sendiri meningkat 2 kali lipat dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar Rp 2 miliar.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Ameriza M Moesa di Tangerang, Jumat, mengatakan BI berperan sebagai orkestrator yang menghubungkan berbagai lembaga untuk menciptakan ekosistem yang mendukung kemajuan UMKM syariah.
“Tahun ini kita naikkan lagi target nya menjadi Rp3 miliar, mudah-mudahan bisa mencapai Rp4 miliar lebih,” harapnya.
Sementara itu di hari kedua,festival diisi dengan Casual Talk Halal Food dan FERBA 2025. Acara ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ketua Komite Pengembangan Organisasi Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Eden Gunawan, F&B Business Owner Dian Widiyawati, serta Founder PT Damory Food Indonesia Group Mori Satria. Diskusi dipandu oleh Mujang Kurnia.
Dengan tema “Ekosistem Kuliner Halal Banten yang Kuat sebagai Kontributor Visi Indonesia Menjadi Pusat Halal Dunia”, kegiatan ini menyoroti pentingnya sinergi berbagai pihak dalam memperkuat industri kuliner halal.
Eden Gunawan menegaskan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat sosialisasi produk halal di masyarakat.
“Kita harus bersinergi dengan pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, masyarakat sipil, dan media. Saat ini, peran para pemangku kepentingan masih berjalan cukup lambat,” ujarnya.
Sementara itu, Dian Widiyawati menekankan bahwa meski 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam, pemahaman masyarakat terkait produk halal masih rendah.
“Banyak isu non-halal ada di sekitar kita. Kalau ragu, lebih baik bertanya. Sertifikat halal menjadi jaminan bagi kita untuk tenang dalam mengonsumsi apapun,” katanya.
Ia juga menyoroti peran media sosial dalam mendorong perubahan pasar. “Prinsipnya, usaha akan mengikuti pasar. Jika konsumen muslim peduli pada halal, maka pelaku usaha pun akan menyesuaikan. Media sosial punya peran besar dalam menyadarkan masyarakat maupun pelaku usaha,” tambahnya.
Sementara itu, Founder PT Damory Food Indonesia Group, Mori Satria, menyampaikan bahwa tujuan perusahaannya adalah menghadirkan produk halal dan thayyib (baik).
“Makanan yang masuk ke tubuh akan menjadi darah dan daging. Kalau makanan haram, itu bisa menutup jalan kita dalam menerima kebenaran. Karena itu, kami sangat concern menyediakan makanan yang halal sekaligus thayyib,” jelasnya.
Menurutnya, halalan thayyiban identik dengan makanan berkualitas premium dan sehat. Dengan jumlah pasar muslim yang besar, Mori menilai bisnis halal juga menjadi sarana berbagi manfaat. (Yogi)