Fajarbanten.co.id – Jembatan penghubung Kampung Sarewu–Pasirsalinten, Desa Citaman, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, yang ambruk total sejak 2024 lalu, hingga kini belum juga diperbaiki.
Selama lebih dari satu tahun dua bulan, belum terlihat adanya pembangunan jembatan baru oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi.
Padahal, jembatan tersebut merupakan akses vital dan menjadi satu-satunya jalur penghubung bagi warga serta pelajar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Akibat belum adanya penanganan, masyarakat setempat membangun jembatan darurat dari kayu dan bambu yang dinilai jauh dari standar keselamatan.
Setiap hari, puluhan anak sekolah dan warga terpaksa melintasi jembatan sementara tersebut demi tetap bisa beraktivitas. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan keselamatan pengguna, terutama anak-anak.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Citaman, Ade Mahroji membenarkan bahwa jembatan di wilayahnya ambruk total pada 2024 lalu dan hingga kini belum diperbaiki.
“Ini bukan rusak baru kemarin, sudah lebih dari satu tahun longsor, dan hingga saat ini dibiarkan,” ungkap Ade saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Kamis 12 Februari 2026.
Menurutnya, warga dan pelajar kini harus mempertaruhkan keselamatan saat melintasi jembatan darurat yang telah rapuh.
“Warga dan anak-anak sekolah lewat jembatan kayu dan bambu setiap hari, mereka bertaruh nyawa agar bisa beraktivitas. Kalau sampai ada korban, siapa yang bertanggung jawab? Jangan pura-pura tidak tahu, apalagi jembatan sementaranya kini sudah rapuh lagi,”jelasnya.
Ade mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, serta anggota DPRD kabupaten dan provinsi agar segera turun tangan membangun jembatan permanen.
“Kami minta anggota DPRD Kabupaten Pandeglang, DPRD Provinsi Banten, serta Pemkab dan Pemprov Banten turun ke lapangan. Jangan cuma datang saat kampanye, rakyat tidak butuh janji, tapi butuh jembatan yang aman dan nyaman,”tegasnya.
Ia menyebut, dalam waktu dekat warga Desa Citaman berencana kembali membangun jembatan secara swadaya. Menurutnya, langkah tersebut bukanlah sebuah prestasi, melainkan cerminan dari belum optimalnya perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
“Kalau rakyat kecil harus bangun jembatan sendiri supaya anaknya bisa sekolah, berarti ada yang salah dalam pengelolaan anggaran dan prioritas pembangunan. Jangan tunggu korban dulu baru bergerak,”katanya.
Terpisah, Camat Jiput, Ade Juliansah membenarkan bahwa jembatan di Desa Citaman ambruk total pada 2024 lalu.
“Ya benar, jembatan dengan ketinggian 8 meter, panjang 12 meter dan lebar 4 meter itu ambruk pada tahun 2024 lalu, berjalan sekitar satu tahun dua bulan,” katanya.
Sejak ambruk kata dia, warga membangun jembatan sementara berbahan kayu dan bambu dari hasil swadaya agar aktivitas tetap berjalan.
“Jembatan tersebut akses terdekat bagi masyarakat dan anak-anak menuju ke sekolah. Makanya, sudah tiga kali masyarakat membangun secara swadaya agar tetap bisa melintas jalur tersebut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pihak kecamatan telah beberapa kali mengusulkan pembangunan jembatan tersebut. Selain itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pandeglang disebut telah melakukan peninjauan ke lokasi.
“Alhamdulillah, dari tim DPUPR Kabupaten sudah dua kali datang ke lokasi pada bulan Desember 2024, dan pada bulan Oktober 2025 dengan tim konsultan. Mudah-mudahan sudah ada perencanaanya,”imbuhnya. (Asep)







