FAJARBANTEN.CO.ID – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Banten, Kombes Pol. (Purn.) Dr. H. Agus Rasyid, S.H., M.H., hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan Talkshow Festival Kaibon 2026 yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kota Serang. Acara ini diselenggarakan di Kawasan Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang, pada Sabtu (31/10/2026).
Mengusung tema “Penguatan Wisata Sejarah dan Budaya sebagai Identitas dan Daya Tarik Pariwisata Kota Serang”, talkshow ini mengupas tuntas akar sejarah serta transformasi budaya golok Banten dari fungsi asalnya sebagai instrumen pertahanan Kesultanan Banten hingga bertransformasi menjadi mahakarya budaya dan identitas kebanggaan daerah.
Benang Merah: Semangat Juang Pendekar untuk Brigade Juara
Kehadiran Ketua Umum KONI Banten dalam forum kebudayaan ini menegaskan bahwa dunia keolahragaan tidak bisa dilepaskan dari akar sejarah dan karakter budaya lokal. Kompleks olahraga kebanggaan masyarakat Banten sendiri sarat dengan simbol-simbol heroisme tersebut.
Dalam pemaparannya, Dr. H. Agus Rasyid mencontohkan bagaimana arsitektur dekorasi obor di Stadion Maulana Yusuf telah lama menampilkan ornamen tiga bilah golok, menandakan bahwa simbol senjata tradisional ini telah menjadi bagian dari identitas kebanggaan masyarakat jauh sebelum tahun 1985.
Nilai-nilai ketangguhan, kedisiplinan, dan mental pantang menyerah yang diwariskan oleh para leluhur Banten dinilai sejalan dengan mentalitas yang harus dimiliki oleh para atlet KONI Banten dalam mengukir prestasi.
”Olahraga bukan sekadar mengejar medali, melainkan tentang pembentukan karakter dan mentalitas ksatria. Semangat juang para pejuang Banten di masa lalu harus menjadi inspirasi bagi para atlet kita untuk terus berjuang membela panji olahraga Banten di kancah nasional maupun internasional,” tegas Dr. H. Agus Rasyid.
Rekam Jejak Sejarah dan Bukti Autentik Golok Banten di Kancah Internasional
Dalam sesi materi sejarah, Dr. H. Agus Rasyid memaparkan bukti-bukti arsip dan naskah kolonial yang memperkuat posisi golok dalam peradaban Banten:
– Catatan Sejarah & Arsip Kolonial: Dokumen penjelajahan bangsa Eropa ke Nusantara sejak tahun 1596 telah mencatat keberadaan para pejuang Banten yang senantiasa membawa golok di pinggang mereka sebagai simbol kehormatan dan alat pertahanan.
– Arsip Museum Dunia: Berbagai artefak dan catatan penting terkait Banten tersimpan di Rijksmuseum serta Museum Angkatan Laut Belanda, yang mendokumentasikan simbol maritim Kesultanan Banten beserta tipe bilah senjata tradisionalnya seperti tipe salam nunggal (ujung naik) dan candung (ujung turun yang dikenal memiliki daya tempur tinggi).
– Penyebaran Ilmu Tradisional: Arsip kolonial tahun 1919 turut merekam figur pendekar terkemuka seperti Santwe, seorang guru silat dan jurus golok yang pengaruhnya menyebar hingga Batavia dan Lampung. Begitu pula kisah heroisme lokal seperti Argo Bin Salamin yang mencerminkan ketangguhan fisik dan mental pejuang Banten.
– Kekayaan Varian Lokal: Tercatat ada 9 gaya golok di Banten, di antaranya golok ring 1204 bermotif ceker 3 asal Serang, serta ragam golok Pandeglang (golok seat dan golok cobas). Seiring berjalannya waktu, fungsi golok bertransformasi secara damai menjadi alat penunjang pertanian, perkebunan, serta simbol identitas estetik pada monumen dan atribut daerah.
Sinergi Membangun Peradaban dan Prestasi Olahraga
Melalui momentum Festival Kaibon 2026 ini, KONI Banten mengapresiasi langkah Disparpora Kota Serang dalam merawat memori kolektif masyarakat. Sinergi antara pariwisata, pelestarian sejarah, dan pembinaan prestasi olahraga diyakini akan memperkuat fondasi karakter generasi muda Banten untuk terus berprestasi dan membawa harum nama daerah. (Bad)







