Ade Yuliasih Dorong Pendidikan Selaras dengan Kebutuhan Dunia Kerja untuk Tekan Pengangguran

oleh

FAJARBANTEN.CO.ID–Anggota DPD RI, Hj. Ade Yuliasih, menekankan pentingnya sinkronisasi antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar tenaga kerja guna menekan angka pengangguran, khususnya di Provinsi Banten. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan dialog publik bertajuk “Dari Kelas ke Karya: Transformasi Pendidikan Menuju Ekonomi Kreatif Berkelanjutan” yang digelar di Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Serang, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Ade Yuliasih, forum diskusi seperti yang diselenggarakan UNIBA sangat penting untuk membuka wawasan mahasiswa mengenai perencanaan masa depan dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

“Acara seperti ini sangat bagus karena mahasiswa perlu diberikan wawasan dan pandangan tentang masa depan mereka. Jangan sampai setelah lulus baru berpikir ingin menjadi apa. Seharusnya sejak sekarang mereka sudah mulai memikirkan apa yang bisa diciptakan dan kontribusi apa yang dapat diberikan,” ujarnya.

Ade menilai banyak generasi muda yang masih belum memiliki gambaran jelas mengenai arah karier setelah menyelesaikan pendidikan. Karena itu, kampus perlu menghadirkan lebih banyak kegiatan yang mampu menjembatani mahasiswa dengan realitas dunia kerja dan kebutuhan industri.

Ia juga menyoroti pentingnya keterkaitan antara teori yang dipelajari di bangku pendidikan dengan praktik di lapangan. Menurutnya, pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan riil dunia usaha dan industri yang berkembang di daerah.

“Kalau kita bicara teori dan praktik, tentu harus ada keterkaitan. Harus ada korelasi antara kebutuhan pasar tenaga kerja dengan pendidikan yang disiapkan. Jangan sampai lulusan yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada,” katanya.

Sebagai contoh, Ade menyebut Provinsi Banten memiliki banyak kawasan industri kimia dan sektor pariwisata yang terus berkembang. Kondisi tersebut seharusnya diikuti dengan penguatan program pendidikan yang relevan dengan kebutuhan sektor-sektor tersebut.

“Kalau di daerah ini banyak industri kimia, maka pendidikan yang mendukung sektor tersebut juga harus diperkuat. Begitu juga dengan sektor pariwisata yang memiliki potensi besar. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi pemerintah dan dunia pendidikan,” jelasnya.

Selain keselarasan kurikulum, Ade menekankan pentingnya penguasaan keterampilan atau skill sebagai bekal utama menghadapi persaingan kerja. Menurutnya, pemerintah saat ini telah mendorong berbagai program pendidikan vokasi dan magang sebagai upaya meningkatkan kesiapan tenaga kerja muda.

“Karena itu sekarang pemerintah mendorong program magang dan pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi sangat penting karena menghasilkan lulusan yang lebih siap memasuki dunia kerja,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang harus mampu mencetak lulusan dengan keterampilan yang benar-benar sesuai kebutuhan industri. Menurutnya, siswa SMK perlu lebih banyak mendapatkan pengalaman praktik dan magang agar memiliki kesiapan kerja yang lebih baik.

“Anak-anak SMK jangan hanya sekadar mengikuti pendidikan kejuruan. Mereka harus benar-benar digembleng keterampilannya, lebih banyak praktik di lapangan, lebih banyak magang, sehingga ketika lulus mereka sudah siap bekerja,” katanya.

Ade berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor industri dapat terus diperkuat sehingga kualitas sumber daya manusia semakin meningkat dan angka pengangguran dapat ditekan.

“Jangan sampai kebutuhan industri berbeda dengan kompetensi yang kita miliki. Yang dibutuhkan pasar apa, itulah yang harus kita siapkan melalui pendidikan dan pelatihan,” pungkasnya.

Dialog publik tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan mengenai pentingnya menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja serta peluang ekonomi kreatif yang dapat menjadi alternatif dalam menciptakan lapangan pekerjaan di masa depan. (Yogi)