Jakarta, 25 Mei 2026 — Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap nilai, transparansi, dan integritas brand, konsep halal kini dinilai berkembang melampaui sekadar sertifikasi produk. Halal semakin dipandang sebagai fondasi kepercayaan dan arah strategis bisnis yang dijalankan secara menyeluruh. Perspektif ini menjadi sorotan dalam peluncuran buku Authentic Halal Brand: Dilengkapi Studi Kasus Merek yang Mengusung Nilai-nilai Halal terbitan IHATEC Publisher yang resmi diluncurkan pada 20 Mei 2026.
Seiring berkembangnya industri halal global dan meningkatnya perhatian terhadap value-driven brand, konsep halal kini semakin dipahami tidak hanya sebagai standar kepatuhan produk, tetapi juga sebagai representasi transparansi, tanggung jawab, dan integritas brand secara menyeluruh. Kondisi ini mendorong semakin banyak brand membangun pendekatan yang lebih autentik dalam menghadirkan nilai halal kepada konsumen.
Dalam buku tersebut, dua brand dari ParagonCorp, Wardah dan Kahf, mendapat perhatian sebagai contoh brand yang dinilai berhasil mengimplementasikan konsep Authentic Halal Brand secara menyeluruh. Keduanya ditempatkan pada tingkat maturitas tertinggi, yakni Level 4 Authentic Halal Brand, karena dinilai mampu menghadirkan nilai halal secara konsisten dalam proses bisnis, komunikasi brand, hingga kontribusi sosial yang berkelanjutan.
Founder & CEO Inspark Indonesia sekaligus penggagas konsep Authentic Halal Brand, Dr. Wahyu T. Setyobudi, menjelaskan bahwa di tengah berkembangnya industri halal, brand dituntut tidak hanya memenuhi aspek kepatuhan, tetapi juga mampu menghadirkan nilai halal secara konsisten dalam identitas, budaya, dan pengalaman konsumen.
“Authentic Halal Brand tumbuh dari kepedulian nyata sebuah brand untuk menjadikan nilai halal bukan sekadar atribut, melainkan value yang menyatu, menghidupkan arah bisnis, budaya, inovasi, hingga makna yang dirasakan konsumen.” ujar Dr. Wahyu T. Setyobudi, Founder & CEO Inspark Indonesia.
Wardah dalam buku ini disebut sebagai salah satu brand yang berhasil mengubah persepsi halal di industri kecantikan Indonesia. Sejak awal kehadirannya, Wardah tidak hanya memposisikan halal sebagai atribut produk, tetapi sebagai nilai yang mendorong keberanian, keberdayaan, dan relevansi yang inklusif lintas generasi.
Novia Sukmawaty, Senior Group Head Wardah Masterbrand & Skincare Paragon Technology and Innovation untuk Wardah, menjelaskan bahwa bagi Wardah, halal merupakan komitmen untuk menghadirkan kebaikan yang dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Bagi Wardah, halal bukan hanya tentang apa yang boleh digunakan, tetapi tentang bagaimana sebuah brand dapat menghadirkan rasa aman, percaya, dan kebermanfaatan secara konsisten. Kami percaya halal harus hidup dalam kualitas produk, proses bisnis, hingga kontribusi yang kami hadirkan bagi masyarakat,” ujar Novia.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut turut mendorong Wardah untuk terus menghadirkan inovasi berbasis sains, komunikasi yang bertanggung jawab, serta berbagai inisiatif sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Kahf dipandang sebagai contoh bagaimana nilai halal dapat diterjemahkan secara kontekstual dan relevan bagi generasi pria modern. Dalam buku tersebut, Kahf diperkenalkan sebagai companion brand yang hadir menemani perjalanan konsumen menjadi versi diri yang lebih baik, tanpa pendekatan yang menggurui.
Andrie Kurniarahman, Group Head of Brand Development PC & Innovation untuk Kahf, mengatakan bahwa pendekatan tersebut lahir dari pemahaman bahwa konsumen saat ini membutuhkan brand yang mampu hadir secara autentik dan relevan dengan perjalanan hidup mereka.
“Bagi Kahf, halal bukan hanya menjadi fondasi produk, tetapi nilai yang diterjemahkan secara relevan dalam kehidupan pria modern. Karena itu, Kahf ingin tumbuh bersama konsumen dengan membangun ekosistem positif bersama komunitas dan partner yang memiliki semangat sejalan, serta hadir sebagai pendamping dalam perjalanan mereka menjadi versi diri yang lebih baik,” jelas Andrie.
Selain membahas Wardah dan Kahf, buku Authentic Halal Brand juga menghadirkan berbagai studi kasus lintas industri, mulai dari makanan, logistik, hingga hospitality, untuk menunjukkan bahwa nilai halal dapat menjadi fondasi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Melalui peluncuran buku ini, IHATEC berharap semakin banyak pelaku industri melihat halal bukan sekadar standar kepatuhan, tetapi sebagai kerangka nilai yang mampu membangun kepercayaan, loyalitas, dan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
