Pengunjung Baduy Diminta Tidak Buang Sampah Sembarangan

oleh
Caption : Suasana di Baduy

Fajarbanten.co.id – Pengunjung saba budaya Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, pada liburan Tahun Baru 2024 diminta untuk mematuhi peraturan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan memotong pepohonan. Dengan begitu, kunjungan ke Baduy itu akan selalu melestarikan alam sekitar.

“Kita berharap semua pengunjung yang menikmati panorama alam kawasan pemukiman Baduy serta bisa menjaga pelestarian hutan dan alam,” kata Ketua Adat yang juga Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija, Rabu (27/12/2023).

Peraturan larangan itu di antaranya tidak membuang sampah sembarangan dan memotong pepohonan yang bisa menimbulkan kerusakan ekosistem lingkungan alam di kawasan pemukiman masyarakat Baduy. Selama ini, tanah hak ulayat Baduy seluas 5.200 hektare itu terdiri dari 3.200 hektare kawasan hutan dan 2000 hektare pemukiman serta lahan pertanian ladang cukup terjaga pelestarian alam.

Mereka pengunjung saba budaya Baduy tentu dapat mematuhi aturan tersebut guna mendukung lestari hutan hijau dan alam. Sebab, masyarakat Baduy memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan hutan dan alam karena titipan leluhur yang harus dilaksanakan.

Baca Juga  Lapas Perempuan Kelas II A Tangerang Menerima Kunjungan Dari Lapas Perempuan Kelas II A Malang

“Kami berharap para pengunjung saba budaya Baduy yang diperkirakan pada pergantian Tahun Baru antara 3000-4000 orang dapat mematuhi aturan larangan itu,” ujar Jaro Saija.

Menurut dia, masyarakat Baduy sudah menyediakan tong sampah atau penampung sampah agar pengunjung saba budaya Baduy dapat memanfaatkan tempat tersebut. Penyediaan penampung sampah terdapat di kawasan pemukiman masyarakat Baduy maupun di jalur lintasan ke jembatan Gajeboh.

Baca Juga  Taufiqurrahman Ruki Sebut Keinginan Penggagas Provinsi Banten Belum Sepenuhnya Terwujud

Sementara itu, Dikdik Kusnaedi, warga Tangerang mengatakan, dirinya merasa senang mengunjungi saba budaya Baduy, karena alamnya cukup hijau dan lestari. Begitu juga topografi kawasan Baduy pegunungan, perbukitan dan terjal curam yang ekstrem.

“Saya bersama temen-teman mendatangi jembatan Gajeboh dengan jalan kaki dan kondisi medannya perbukitan serta terjal curam sangat melelahkan, padahal jaraknya sekitar 2 kilometer,” ucap Dikdik. (Ajat)