Kolaborasi Dokter & Apoteker Jangkau 14 Desa Terdampak Pascabanjir di Aceh

oleh

Fajarbanten.co.id – Bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada November lalu membuat duka yang sangat mendalam. Bukan hanya untuk para korban, penyintas bencana tapi juga masyarakat Indonesia dan tenaga kesehatan di Banten.

Atas dasar kemanusiaan dan rasa peduli akan sesama, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Banten dan Apoteker Tanggap Bencana (ATB) menggalang donasi dan terjun langsung ke pusat bencana di Aceh, Kamis (11/12/2025) lalu.

Selama sepuluh hari, tim kesehatan yang terdiri dari dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Banten, Apoteker Tanggap Bencana (ATB) berbagai wilayah, serta apoteker dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Wilayah Aceh, menembus jalan berlumpur, jembatan yang putus, menyeberangi sungai, dan menghadapi hilangnya sinyal komunikasi demi hadir di desa-desa yang masih terisolasi pascabanjir.

Aksi kemanusiaan ini berlangsung pada 11–20 Desember 2025, menjangkau 14 desa di 7 kabupaten/kota: Kota Banda Aceh, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Lhokseumawe, hingga Aceh Tamiang. Medan yang dihadapi jauh dari kata mudah.

Di sejumlah lokasi, listrik belum menyala, air bersih sangat terbatas bahkan tidak tersedia, sementara lumpur masih menumpuk di jalan, rumah warga, hingga masjid.

Sebanyak 1.070 warga mendapatkan manfaat layanan kesehatan langsung. Keluhan yang ditemui beragam, mulai dari penyakit kulit akibat jamur, diare, infeksi, hingga penyakit kronis yang terputus pengobatannya karena akses ke fasilitas kesehatan terhambat. Tim kesehatan juga melakukan perawatan luka pascabanjir terhadap 15 warga, akibat terkena paku, kayu, dan sisa bangunan yang terbawa arus.

Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak. Sebanyak 326 anak mengikuti kegiatan dukungan psikososial melalui bermain dan pendampingan sebagai upaya memulihkan trauma pascabencana.

Di tengah keterbatasan, mereka seakan tak menunjukkan duka. Bibir-bibir mungil itu selalu mengucap terima kasih dan bertanya, “Kapan kakak datang lagi?”

Di sudut lain, Bidan Nurmala tak kuasa menahan air mata saat menerima satu pak lilin. “Sudah dua minggu kami gelap gulita,” ujarnya Nurmala seorang bidan yang sudah beberapa hari di lokasi bencana.

Seorang relawan, Apt. Indah, tak kuasa menyembunyikan haru ketika seorang bocah dengan lumpur yang mengering di kausnya terus mengikuti, seolah enggan ditinggalkan di pos pengungsian yang sepi dan gelap gulita.

Selain layanan kesehatan, tim juga mendistribusikan berbagai logistik seperti tikar, perlengkapan mandi, pakaian dalam, selimut, sarung, daster, mukena, vitamin, sembako, dan air minum. Kebutuhan spesifik perempuan, seperti pembalut, turut disalurkan. Anak-anak selalu mendapat mainan, susu, dan biskuit.

Sebagian logistik juga disalurkan ke tiga dapur umum yang menjadi tumpuan kebutuhan pangan warga di pengungsian seperti saat ke Desa Menanggini, di Aceh Tamiang juga Desa Matang Maneh, Kab. Aceh Utara.

Keterbatasan air bersih serta akses jalan yang sulit akibat lumpur dan tumpukan kayu menjadi tantangan utama di lapangan. Warga mengeluhkan sulitnya membersihkan rumah karena tidak memiliki alat seperti sekop dan cangkul.

Kegiatan ini melibatkan 4 dokter dari IDI Wilayah Banten, 8 apoteker relawan ATB dari Banten, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Bangka Belitung, serta dukungan penuh apoteker dari PD IAI Aceh di setiap lokasi kegiatan.

Dari tim IDI, dr. Eling menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata respon dokter Banten terhadap bencana di Aceh. “Meski belum dapat menjangkau semua wilayah terdampak, kami berharap kehadiran ini dapat sedikit meringankan duka warga,” ujarnya.

Seluruh logistik yang disalurkan merupakan hasil donasi dari berbagai pihak yang dititipkan melalui IDI Banten, ATB, PD IAI Aceh dan berbagai komunitas kemanusiaan lainnya.

Tim kesehatan datang bukan hanya membawa obat dan stetoskop, tetapi juga kepedulian. Dampak pascabanjir di Aceh meninggalkan kerusakan yang besar, namun juga membuka ruang untuk terus saling menguatkan dan meningkatkan kepedulian.

Apt. Tedy Kurniawan Bakri, Ketua PD IAI Aceh, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas profesi ini. Ia menilai sinergi dokter dan apoteker menjadi langkah nyata dalam respon bencana di Sumatera, khususnya Aceh.

“Semua berharap, Aceh perlahan pulih dan bangkit. Bencana yang datang membawa luka, namun juga menguatkan kembali rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air,” pungkas Tedy. (*//yogi)