Gusur Stigma, Festival “Sora Sorai” di Umah Kaibon Hadirkan Ruang Aman bagi Disabilitas, Ibu, dan Anak

oleh
Founder event 'Sora Sorai' Ganesha Anugrah Efendi (Echa).
Founder event 'Sora Sorai' Ganesha Anugrah Efendi (Echa).

FAJARBANTEN.CO.ID- Sebuah gebrakan inklusif lahir di Kota Serang melalui gelaran festival bertajuk ‘Sora Sorai”. Diselenggarakan oleh sebuah liga kolektif, acara perdana ini berlangsung selama tiga hari, mulai dari Jumat, 19 Juni hingga Minggu, 21 Juni 2026, dengan mengambil tempat di cagar budaya Umah Kaibon, Kota Serang.

Berbeda dengan festival pada umumnya yang didominasi oleh kalangan muda, Sora Sorai memosisikan diri sebagai pionir festival di Serang yang mengusung tema besar Inklusivitas. Acara ini dirancang secara khusus untuk memberikan ruang aman, ramah, dan nyaman bagi teman-teman disabilitas, serta kaum ibu dan anak-anak.

“Ini adalah acara perdana dari liga kolektif kami. Melalui Sora Sorai, kami ingin menyediakan safe space (ruang aman) yang ramah bagi disabilitas, ibu, dan anak. Kami bisa dibilang sebagai pionir di sini yang memberdayakan konsep festival inklusif seperti ini,” ujar Ganesha Anugrah Efendi, Founder Sora Sorai, saat diwawancarai di lokasi acara pada Sabtu (20/6/2026).

Rangkaian Kegiatan Tiga Hari yang Variatif
Sora Sorai menyajikan beragam kegiatan menarik yang terbagi selama tiga hari berturut-turut, di mana Pop-up Bazaar menjadi suguhan konstan yang menemani pengunjung sepanjang gelaran acara.
* Hari Pertama (Jumat, 19 Juni): Acara dibuka dengan sesi meditasi yang menenangkan, dilanjutkan dengan kegiatan workshop yang berkolaborasi dengan komunitas lokal Kopi Darat Truk Kontainer.

* Hari Kedua (Sabtu, 20 Juni): Kemeriahan berlanjut dengan lomba mewarnai anak-anak serta sesi Talkshow bertema Inklusivitas. Talkshow ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Serang, komunitas disabilitas, serta para pelaku usaha. Istimewanya, diskusi ini menghadirkan para pengusaha dari teman tuli dan pengusaha yang memperkerjakan pekerja disabilitas. Selain itu, hadir pula perwakilan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan literasi finansial, disusul dengan kumpul komunitas dari 234 SRC.

* Hari Ketiga / Acara Puncak (Minggu, 21 Juni): Hari terakhir bertepatan dengan hari jadi (anniversary) Rumah Budaya Kaibon. Sora Sorai berkolaborasi dengan Rumah Budaya Kaunjon untuk menghadirkan perayaan puncak. Dimulai sejak pagi hari dengan aktivitas dari komunitas Serang Running Club (SRC), senam bersama, pertunjukan dari Nona Kayu, hingga berbagai penampilan seni anak muda seperti musik keroncong dan dance.

Dorong Kesetaraan Hak dan Didukung Penuh Pemerintah
Ganesha menjelaskan bahwa latar belakang pemilihan tema inklusivitas ini didasari atas masih minimnya sorotan publik terhadap kelompok disabilitas di ruang festival. Meskipun sudah banyak wadah yang menaungi mereka, eksistensi dan karya mereka dinilai masih kurang dilirik oleh masyarakat luas.

“Melalui festival ini, kita merangkul dan mengajak mereka. Kita ingin mengedukasi bahwa teman-teman disabilitas juga bisa berkarya, berdaya, dan memiliki kesempatan setara untuk menikmati sebuah festival dan hiburan seperti teman-teman yang lain,” tegas waniya yang akrab disapa Echa ini.

Konsep matang yang diusung Sora Sorai ini pun mendapat respons yang sangat positif dari Pemerintah Kota Serang. Ganesha membeberkan bahwa pihak pemerintah bahkan meminta agar acara dengan konsep inklusif seperti ini dapat diselenggarakan secara rutin setiap bulan.

Fasilitas Ramah Ibu: Membawa Anak Bukan Halangan Berdaya
Salah satu keunikan yang menjadi pembeda besar dalam festival Sora Sorai adalah tersedianya ruang bermain anak (*lplayground) hingga ruang laktasi (menyusui). Bahkan, panitia menyediakan jasa pengasuh anak (babysitter) di lokasi.

Fasilitas ini disediakan agar para ibu yang ingin melepaskan penat (healing), berbelanja di bazar, atau mengikuti workshop dapat menikmati acara dengan tenang tanpa perlu khawatir dengan kondisi buah hati mereka.
Sebagai seorang ibu sekaligus founder event, Ganesha ingin mematahkan stigma bahwa memiliki anak akan membatasi ruang gerak perempuan untuk tetap produktif.

“Biasanya kalau festival kan identik dengan anak muda saja. Di sini, ibu-ibu juga bisa kumpul dan menikmati acara. Saya sendiri sebagai founder adalah seorang ibu yang membawa anak ke sini. Kami ingin mencontohkan bahwa status sebagai ibu tidak menghalangi kita untuk tetap bisa berkarya, berdaya, dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat,” pungkasnya menutup wawancara. (yogi)