fajarbanten.co.id- Guna menjembatani jurang pemisah (gap) antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja, Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPP APINDO) Banten menginisiasi pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis industri. Langkah strategis ini dirancang untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) lokal sekaligus memperluas akses penyerapan tenaga kerja di Banten.
Komitmen tersebut mendapat dorongan nyata melalui dukungan hibah lahan seluas dua hektare dari kawasan industri Modern Cikande Industrial Estate. Lahan tersebut bakal dialokasikan khusus untuk membangun sarana pendidikan vokasi terpadu yang kurikulum serta praktik pembelajarannya dirancang selaras dengan dinamika kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Mendedikasikan Pendidikan untuk Kebutuhan Industri
Ketua Yayasan APINDO Daya Banten yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPP APINDO Banten, Najib Hanafi, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk kontribusi konkret dari para pelaku usaha dalam mencetak SDM unggul.
Menurutnya, pendidikan kejuruan saat ini harus berorientasi pada pencapaian kompetensi praktis yang langsung memenuhi standar kualifikasi perusahaan.
“Melalui sekolah ini, kami ingin mendekatkan dunia pendidikan dengan realitas industri. Harapannya, para lulusan kelak memiliki bekal keterampilan yang benar-benar tepat sasaran sehingga mereka jauh lebih mudah terserap di dunia kerja,” ujar Najib, Selasa (13/10/2026).
Najib menambahkan, partisipasi aktif sektor swasta dalam merancang dan mengelola pendidikan vokasi sangat krusial untuk menekan angka pengangguran terstruktur. Dengan kurikulum yang kontekstual, lulusan SMK di Provinsi Banten diproyeksikan memiliki daya saing tinggi saat melangkah ke pasar kerja nasional maupun regional.
Kemitraan Strategis dan Pembentukan Karakter Kerja
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua DPP APINDO Banten, Tomy Rachmatullah, menyampaikan bahwa pihaknya menggandeng SMK Mitra Industri MM2100 sebagai mitra strategis. Kerja sama ini bertujuan memperkuat keselarasan antara materi pembelajaran di kelas dengan kebutuhan teknis di lini produksi industri.
Tomy menekankan bahwa kesiapan seorang lulusan tidak boleh hanya berfokus pada kecakapan teknis (hard skills), tetapi juga harus dibarengi dengan pembentukan mentalitas dan karakter (soft skills).
“Perusahaan tidak hanya mencari pekerja yang ahli memegang alat atau mesin, tetapi juga membutuhkan individu yang memiliki etos kerja profesional—seperti kedisiplinan, rasa tanggung jawab, kejujuran, dan fleksibilitas beradaptasi. Pendidikan vokasi ideal harus mampu mengintegrasikan penguasaan materi teknis dengan pembinaan karakter,” kata Tomy.
Pemilihan SMK Mitra Industri MM2100 bukan tanpa alasan. Lembaga tersebut telah berpengalaman selama 12 tahun dalam menyelenggarakan model sekolah kejuruan berbasis industri. rekam jejak tersebut diharapkan dapat dijadikan rujukan dalam menyusun ekosistem pembelajaran yang aplikatif bagi kawasan industri di Banten.
Dorongan Sinergi dan Lintas Kawasan
Lebih lanjut, Tomy menggarisbawahi pentingnya dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Banten serta DPRD Provinsi Banten untuk merealisasikan proyek pendidikan ini. Sinergi tripartit antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor usaha menjadi kunci utama agar keberlanjutan operasional sekolah dapat terjaga dalam jangka panjang.
Ia berharap, model SMK berbasis industri ini kelak tidak berhenti di Cikande saja, tetapi bisa direplikasi di berbagai kawasan industri lain yang tersebar di wilayah Banten. Dengan demikian, pemerataan kualitas SDM dan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal dapat terwujud secara masif.
Peran Luas Asosiasi Pengusaha
Di sisi lain, Ketua Harian DPP APINDO Banten, Kris R. Adidarma, menegaskan bahwa keterlibatan APINDO di sektor pendidikan vokasi merupakan bagian dari tanggung jawab moral untuk memajukan perekonomian daerah.
Peran organisasi pengusaha menurutnya harus meluas, tidak terbatas pada pembahasan regulasi pengupahan atau dinamika hubungan industrial semata.
“Ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan siap pakai adalah pondasi utama dalam menjaga iklim investasi dan pertumbuhan industri. Penyiapan SDM berkualitas merupakan tanggung jawab bersama, dan APINDO berkomitmen untuk mengambil peran aktif di garis depan,” tutur Kris. (yogi)
